Inspirasi Dalam Tiap Pribadi
03 Juli 2009
Petang itu seperti petang sebelumnya, berangkat menuju mushalla untuk menunaikan shalat maghrib dan isya berjamaah. Badan kurasakan dalam kondisi kurang enak, namun teringat dgn hadist yang menyebutkan bahwa..... yg sakit pun akan berada diantara dua orang (dipapah) karena keutamaan dari shalat berjamaah bagi seorang muslim, subhanallah...malu ah ama god the almighty klo udah nyari ilmu tidak diamalkan biar dikit dan kecil namun kucoba bila bisa diamalkan akan kuamalkan.
Petang itu dalam perjalanan menuju mushalla, terdengar anak2 kecil melantunkan shalawat atas Rasulullah saw dan pujian2 atas-Nya. Lantunan suara para perhiasan2 surga itu biasa saja ‘nothing special, suara rata2 orang indonesia’ namun berpadu sekali dengan pemandangan alam desa sekitar menuju mushalla yang kulihat, lokasi mushalla itu berada di bawah lembah sehingga harus menuruni turunan dengan pemandangan pedesaan yg asri. Wangi asap pembakaran tungku entah sampah, namun khas di hidung yang menciumnya sensasional ‘Ndeso banget’.
Memasuki mushalla kulihat beberapa orang tua, yah kakek2 tepatnya sedang melaksanakan shalat sunat dan kulihat perhiasan2 surga sedang berebut microphone menyenandungkan pujian dan shalawat (deuh....jd ingat masa kanak2). Perbandingan usia jamaah begitu jauh, hanya ada dominasi generasi tua dan anak2, ‘kemana generasi angkatanku’ tanyaku dalam hati. Imam pun datang, dan shalat maghrib berjamaah pun didirikan. Selesai shalat, dzikir dipimpin imam berlanjut dan diakhiri dengan salam berkeliling diiringi dengan lantunan shalawat. Ketika hendak bersalaman dengan seorang pemuda yg kira2 seusia, dengan perawakan yang lebih besar dariku. Namun mengapa tangannya hanya menunggu, tidak bergerak mengambil tanganku makanya tanganku yang menghampiri tangannya. Shalat sunat rawatib kulaksanakan, dalam shalat (hati dan pikiran) berulang-ulang bertanya “kenapa dgn akang yang barusan?” (udah......sok kritis nih pikiran ditambah bukan pada tempat dan waktu seharusnya lagi...yeei).
Selesai shalat kuhampiri akang tersebut, dengan senyuman terbaikku kuhampiri ci akang, kuperkenalkan namaku dan beliau pun memperkenalkan namanya. Namanya kang Babah, usianya lbh tua dariku dan kami sama2 anak pertama, kang babah dari tiga bersaudara beda dikit kang, ane 4. Setelah kuperhatikan dengan seksama, kutanyakan kondisi fisik kang babah terutama bagian matanya yg memang sudah kurang dapat melihat dengan awas bahkan cenderung buram, mungkin tak bisa melihat sama sekali (lebay nih). Menurut beliau, dahulu mata kanannya normal dan hanya mata sebelah kirinya saja yg kurang optimal. Lantas ketika berusia sekolah dasar keluarga kang babah mendorong kang babah untuk melakukan operasi terhadap mata kiri kang babah, setelah operasi awalnya mata kirinya berfungsi dengan baik. Namun tak beberapa lama, matanya kembali bermasalah bahkan mata kanannya ikut2an bermasalah dan kini kedua matanya tidak dapat melihat lbh baik lagi.
Karena kurang enak badan, kutanyakan apa kang babah bisa merancet (memijat) dan dengan simple ‘insyaAllah bisa’ timpalnya. Mulailah jemari kang babah menapaki kulit coklat yang jauh dari kata mulus. Sambil menikmati pijatan, obrolan kulemparkan sekali, dua kali, bahkan berkali kali dan selalu bersambut dengan jawaban sederhana serta sekali kali sebuah smash dengan diiringi tawa kecilnya. Hingga kang babah balik bertanya padaku ‘Shalat subuh suka dmn? disini saja biar bisa berjamaah!’ dalam hati menangggapi pertanyaan sekaligus ajakan itu malu....subuh palingan di mess (itu juga jam 6 atau setengah 7, ha..ha..ha..tawaku malu dalam hati). Ajakan itu menurut kang babah dikarenakan imamnya itu kadang datang (itu juga telat sekali mendekati waktu dhuha) dan kadang tidak datang sehingga terpaksa kang babah shalatnya munfarid (sendirian), sedangkan untuk shalat munfarid kang babah tidak harus ke mesjid, di rumah saja toh Allah swt maklum dengan kondisi fisiknya (rukhsah)..namun semangatnya..subhanallah.
Kang babah yg jelas2 kurang awas dalam penglihatan masih diberikan kekuatan melihat yang jauh.......jauh.....lbh jauh dan lbh indah dari sekedar kemampuan yg dapat dicapai dengan indera, lebih hebat dari ilmu yang telah kubaca dan kuhafalkan dengan indera penglihatanku bahkan kebanyakan penglihatan anak2 generasiku. Sejak hari itu, niatnya sih tiap subuh mo nemenin kang babah untuk shalat berjamaah..dan dikit2 berjalan meski berselang2, namun insyaAllah tidak akan membiarkan kang babah sendirian lagi subuhnya, istiqamah.
Obrolan terus berlanjut, jemari kang babah menari tak terhenti, hingga adzan isya berkumandang dan jamaah isya didirikan. Lantas bubar barisan....kembali ke dunia masing2. Oh iya maaf kang babah lupa, ngutang dulu yaa hadiahna besok!
Tetap update tulisan dari ciung_a di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!
